Mencari Solusi Pembelajaran Alternatif (RESENSI BUKU)

Oleh A Darmawan

Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Fuad Hasan dalam sebuah kesempatan mengingatkan bahwa pendidikan anak jangan diartikan hanya di sekolahan saja.
Menurutnya, orang selama ini keliru jika pendidikan hanya dimengerti sebatas sekolah saja, padahal apa yang dialami dan dilakukan anak-anak di luar sekolah juga merupakan pendidikan.
Mengikuti J. Drost, seorang pemerhati pendidikan, pendidikan (dalam bahasa Latin, e-ducare yang berarti menggiring ke luar) sejatinya merupakan proses pemuliaan, pembentukan manusia.
Karenanya, sebagai proses pembentukan, pendidikan selalu bersifat informal dan tidak mungkin formal atau diformalkan. Pendidikan tidak mungkin dilembagakan dan sesungguhnya pula tidak pernah ada yang namanya “lembaga pendidikan”.
Lembaga pendidikan dalam hal ini sekolah barangkali seperti kata Everett Reimer telah mati, school is dead. Bersamaan dengan itu, Ivan Illich mengajukan gagasan “bebas dari sekolah” sebagai sikap kritiknya tentang fetisisme (pemujaan) terhadap sekolah sebagai satu-satunya lembaga pendidikan.
“Bebas dari sekolah” dimaksudkan Illich untuk melenyapkan kekuasaan satu orang yang mewajibkan orang lain untuk menghadiri pertemuan. Dalam bukunya Deschooling Society (Bebas dari Sekolah, diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Penerbit Obor), Illich mengecam institusionalisasi sekolah yang memasung potensi kreatif manusia.
Sekolah formal, dalam pandangan Illich tak ubahnya sebuah pabrik yang mencetak anak didik dalam paket-paket yang sudah pasti. Anak-anak Indonesia selama 32 tahun lamanya telah dipenjara oleh sistem pendidikan yang diselenggarakan melalui sekolah formal, kata (alm.) Romo Mangun.
Di sekolah, mereka diajari “jampi-jampi”, dibius kesadarannya, dilatih membuat proyek proposal yang dananya bisa dikorupsi, dan dibisiki bahwa ijazah adalah segalanya. Itulah sejumlah catatan kritis atas wacana sekolah yang terbentang dalam buku ini.
Harefa setidaknya juga mencatat tiga hal mendasar berkait problem klasik seputar wacana sekolah yang masih itu-itu saja. Yang pertama, sekolah telah dianggap atau diperlakukan sebagai pemegang hak monopoli atas pengetahuan (knowledge) dan keterampilan (skills).
Mereka yang berkuasa atas lembaga-lembaga persekolahan, mulai dari pemerintah sampai pengurus yayasan, kepala sekolah dan guru, tidak ubahnya bagai raja yang berhak mendiktekan pengetahuan mana yang diperlukan dan keterampilan apa yang harus dilatihkan kepada semua orang yang bersekolah.
Guru, dalam hal ini, menjadi orang yang serbatahu dan paling mengerti apa yang dibutuhkan dan apa yang tak diperlukan oleh muridnya. Bahkan besar kemungkinan, guru tidak dapat salah.
Kedua, sekolah dalam prakteknya berupaya melestarikan kekuasan dan status quo. Hal ini tampak pada penerapan “kurikulum nasional” yang disusun oleh sejumlah “kelompok ahli” yang paling mengetahui kebutuhan masyarakat.
Masyarakat dalam hal ini, terutama yang bukan “produk” sekolah, hampir dapat dipastikan tidak pernah diajak untuk ikut terlibat memikirkan soal “kurikulum nasional”. Mereka dianggap “bodoh” dan karenanya harus menerima begitu saja apa yang telah ditentukan oleh “kaum pintar”.
Ketiga, di lembaga persekolahan pula “sistem kasta” yang diskriminatif dilestarikan. “Kasta tertinggi” adalah kepala sekolah atau rektor dan pengajar/dosen.
Di bawahnya adalah siswa/mahasiswa yang paling pandai menghafal, patuh dan taat, “sarimin-sarimin” muda, para “juara kelas” dan “mahasiswa teladan” yang jumlahnya kurang dari jumlah jari tangan.
Selebihnya, dalam jumlah yang amat sangat besar, adalah kaum “paria”, orang-orang pinggiran yang tidak punya hak suara dan bahkan tidak boleh bicara pada forum-forum akademis yang terhormat (hlm.149-155).
Atas dasar sejumlah fakta tersebut, melalui buku ini, Harefa sepertinya berusaha mengajak pembaca untuk mempertimbangkan kembali bagaimana kalau lembaga persekolahan itu dibubarkan.
Dan sesudahnya, mengikuti Illich, Harefa mengusulkan agar diciptakan sebanyak mungkin kesempatan belajar dengan hampir sepenuhnya mengandalkan inisiatif masyarakat luas dalam membentuk jaringan-jaringan forum pembelajaran baru.
Harefa lantas merumuskan misi forum pembelajaran baru tersebut ke dalam pernyataan: menemukan kembali jiwa pembelajaran dalam diri kita (reinventing the spirit of learning within all of us) dengan cara meningkatkan kesadaran pembelajar, dari kesadaran magis dan naif menuju kesadaran kritis, sebagaimana pernah digagas oleh Paulo Freire.
Forum pembelajaran baru tersebut dalam hemat Harefa bisa dikerjakan di rumah (homeschooling). Di tempat inilah, Harefa berusaha meletakkan rumah sebagai basis utama proses pembelajaran kaum muda.
Kaum muda yang memutuskan untuk tidak mengikuti proses pembelajaran persekolahan dapat tetap belajar di rumah dengan bantuan saudara dan orangtua serta tetangga mereka. Wacana pembelajaran berbasiskan rumah ini adalah salah satu upaya Harefa dalam mencari solusi pembelajaran alternatif.
Forum pembelajaran baru lain yang juga mendapat perhatian Harefa adalah semacam “pengajar keliling”. Inti konsep “pengajar keliling” ini adalah pengajar mendatangi anak-anak dalam lingkungan hidup mereka yang nyata.
Dari sana pengajar belajar memahami konteks kehidupan anak-anak itu, dan kemudian mendesain proses pembelajaran yang relevan bagi anak-anak itu (hlm.161-172).
Cara ini setidaknya mengingatkan pada apa yang dikatakan Paulo Freire dalam bukunya Cultural Action For Freedom, Penguin Books, 1972, bahwa jika keprihatinan kita demi manusia, pendidikan merupakan gerakan kultural untuk pembebasan dan oleh karena itu merupakan tindakan memahami.
Buku Sekolah Saja Tidak Pernah Cukup ini juga memuat kritik konstruktif yang datang dari Larry Ellison dan Robert T. Kiyosaki. Ellison, seorang pengusaha, menilai bahwa untuk bisa sukses dalam hidup, orang tidak perlu, apalagi harus, memiliki gelar akademis. Yang diperlukan adalah perjuangan dan ketekunan belajar.
Sementara itu, Kiyosaki, penulis buku Rich Dad, Poor Dad, mengatakan bahwa bekerjalah untuk belajar dan bukan bekerja untuk uang. Kiyosaki juga menekankan pentingnya kita melek secara finansial (financial literacy) agar mampu membaca angka dan memaknainya dengan jitu.

Penulis adalah bekerja di Tris Pustaka,
tinggal di Yogyakarta.

0 komentar:

Post a Comment