Sekolah Berbasis IT Berawal di Batam

detikcom – Batam, Sejumlah sekolah di pulau Batam menjadi pilot project
percontohan sekolah berbasis informasi dan teknologi (IT). Program ini
bertajuk One School One Computer’s Lab (OSOL) atau satu sekolah satu
laboratorium komputer.

Proyek program pengembangan sekolah berbasis IT ini merupakan salah satu
upaya terpadu dalam rangka mengurangi kesenjangan dan gagap teknologi.
Program ini ditujukan untuk meningkatkan kemampuan masyarakat khususnya
generasi muda dan siswa sekolah dalam menggunakan teknologi komunikasi dan
informasi.

Program yang dicanangkan oleh Menteri Pendidikan Nasional dan Menteri
Negara Komunikasi dan Informasi ini, peresmiannya dilakukan pada hari
Sabtu (1/11/2003) di Batam. Hadir dalam acara tersebut, Mendiknas Malik
Fadjar dan Menakominfo, Samsul Mu’arif.

“Batam merupakan tempat orientasi kawasan industri, sehingga program OSOL
ini paling memungkinkan di Batam, mengingat dukungan infrastruktur dan
kalangan usaha yang sangat memadai,” kata Menakominfo, Samsul Mu’arif.

Disampaikan Menakominfo, program ini menargetkan daerah-daerah tertentu di
Indonesia yang infrastrukturnya mendukung. Bukan daerah-daerah yang
ditentukan secara acak.

Sementara itu, Mendiknas menyampaikan bahwa program OSOL yang bertujuan
untuk memajukan teknologi ini, haruslah bergerak seimbang, agar tidak
lepas dari pembangunan mental. Karena menyelesaikan bangunan “karakter
bangsa” jauh lebih sulit dari pembangunan infrastruktur.

Dijelaskan Budi Rusadi, kepala program OSOL, ada enam sekolah yang menjadi
proyek percontohan ini, yaitu SMU Negeri 1 Sekupang, SMU Negeri 2 Belakang
Padang, SMK Negeri 1 Batu Aji, SLTP Negeri 6 Sai Panas, SLTP Negeri 3
Sekupang dan SD Negeri 2 Tiban.

Program ini memperoleh dukungan dari Pemerintah Kota (Pemkot) Batam,
Otorita Batam (OB), PT Telkom Batam dan Microsoft Indonesia.

“Pemkot Batam menyumbangkan 80 komputer, dan OB juga menyediakan 80
komputer. Telkom membantu dalam penyediaan infrastruktur jaringan internet
dan 20 komputer, sedangkan Microsoft menyerahkan bantuan berupa software
Windows secara gratis dan software Microsoft Office dengan harga US$2,5,”
papar Rusadi.

Ari Kunwidodo, Wakil Presiden Direktur, Microsoft Indonesia menyatakan,
“perjanjian ini merupakan salah satu realisasi program Microsoft Partner
in Learning untuk mendukung pemerintah RI dalam memberikan akses yang
lebih baik kepada teknologi informasi dan komunikasi bagi dunia pendidikan
di Indonesia.” (Sumber:detik.com – nks)